14 May 2025

The Ordinary

Something—once felt so ordinary—turns out to be a very special memory.



Saat itu menjelang akhir 2022. Dalam pendakian ke Daimonji-yama, sebuah gunung kecil di belakang Kyoto University, foto ini kami ambil bersama.

Waktu itu, saya sendiri tidak tahu masa depan seperti apa yang nanti akan saya temui, sampai akhirnya dua tahun sesudahnya, saya mendapatkan pelajaran berarti, ketika foto ini saya pandangi.

Ada perasaan nostalgis tentang setahun di Kyoto yang sudah saya lalui. Akan tetapi, perasaan itu bukanlah tentang peristiwa-peristiwa besar yang terjadi. Yang ada, memori-memori sederhana tentang kehidupan sehari-hari di sana lah yang datang menghampiri.

Kenangan-kenangan itu...

Rasa bahagia ketika berkumpul bersama kawan-kawan, atau rasa tenang ketika menghabiskan waktu di kamar nomor 220 sendirian.

Girang saat menemukan hal yang menarik di lorong-lorong kecil jalan, atau rasa takjub saat memandang sesuatu yang megah dari jendela kendaraan.

Berselimut di asrama ketika hujan dan dingin melanda, kemudian melangkah dengan hati gembira ketika cuaca menjadi nyaman untuk berjalan-jalan atau bahkan pergi mengembara ke luar kota.

Mengayuh sepeda dengan penuh gairah ketika matahari pagi bersinar cerah, atau berkemas dengan penuh cemas untuk mengejar jadwal terakhir Eizan Line di tengah gulita.

Membeli kebab di dekat persimpangan Hyakumanben untuk dinikmati di Kamogawa Delta, sambil menatap senja menuju Stasiun Demachiyanagi melewati jalan lamanya.

Menyimak pengumuman demi pengumuman saat naik bus kota ke Kyoto-eki atau Shijo-Kawaramachi. Panik berlarian menuju bus stop yang berbeda, mengejar bus merah nomor 17 atau 41 untuk kembali ke asrama karena ketinggalan bus yang biasanya.

Juga yang tidak akan pernah terlupa, ketika betapa kemudian kota berubah menjadi penuh sesak dengan pengunjung dari berbagai penjuru bumi. Padahal, sebelum itu saya sudah terlajur nyaman dengan hari-hari yang hening di masa pandemi.

Musim semi terasa begitu dingin ketika saya pertama tiba. Akan tetapi, setahun kemudian musim yang sama terasa hangat—sungguh berbeda, bersyukur sebab beku yang tak pernah sebelumnya terbayangkan telah terlewatkan.

Sampai tiba-tiba saya merasa terpukul. Ada henyak yang menyesak. Sebab kota indah yang saya tinggali harus segera saya tinggalkan, menghadapi kenyataan bahwa jalanan, bangunan, sungai, telaga, pepohonan di atas bukit—setiap bagian yang biasa saja ini, mungkin tidak pernah akan bisa saya lihat lagi.

Namun, tiap sudut kota yang pernah saya lalui ternyata bisa hidup kembali dalam ingatan saat memandang foto, seolah mengingatkan saya pada setiap nafas yang saya hela di Kota Kyoto.

Saya belajar:
It was never the hardships that truly stayed, but it was the happiness and ease that never faded.
It reminds me, again and again, that even the smallest moments aren’t in vain. Because they’re the ones we cherish—the ones that remain.


Upcycled content. Sumber: Instagram yang lama (tanggal unggah 2024/01/02).
Setelah penyuntingan berkali-kali, akhirnya konten ini saya unggah kembali dengan sejumlah besar modifikasi. 
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih khusus untuk Mba Mira atau Mba Yayi yang telah mengabadikan momen ini. Maaf saya tidak bisa ingat persis siapa yang mengambil gambarnya.

No comments:

Post a Comment