20 May 2020

Buat Meirina

Untuk Menjel.

Sudah lima tahun, saya masih saja mengucapkan selamat ulang tahun untukmu di setiap tanggal 20 Mei. Seandainya kamu tidak pergi, apakah saya masih tetap teman baikmu sampai sekarang?

Saya harus minta maaf seperti apa, dan terlebih lagi, saya harus minta maaf pada siapa, terutama karena tidak jadi berangkat ke Jakarta waktu itu. Betapa naifnya saya yang menyangka semuanya akan baik-baik saja.

Saya memang bukan teman yang baik. Saya membatalkan tiket ke Jakarta dan rencana untuk ke RSCM menjengukmu, entah karena alasan apa yang bahkan sekarang saya tidak bisa ingat lagi.

Saya memang bukan teman yang baik. Saya tidak bisa cepat-cepat meminjamkan laporan praktikum biometrika saya ke kamu pada saat kamu membutuhkannya.

Saya memang bukan teman yang baik. Saya sampai kecewa dengan diri saya sendiri karena bahkan tidak pernah ingat kapan terakhir kali kita bertatap muka.

Tapi kamu, Njel, kamu sungguh teman yang baik.

Saat kita berdua kenal untuk pertama kalinya di SMA, kamu yang menyapa saya terlebih dahulu.

Saat kita belum lama kenal dan saya masih belum membawa kendaraan sendiri pada waktu sekolah, kamu mau mengantarkan saya sampai ke tempat menunggu bis terdekat, meskipun arah pulangmu tidak sejalan.

Saat saya dan kamu pergi ke Merapi berdua, betapa dingin udara di Selo waktu itu masih saya ingat, tetapi pembicaraan kita berdua selama perjalanan membuatnya terasa begitu hangat. Saya dan kamu membicarakan tentang cinta meskipun bukan tentang kita berdua. Saya benar-benar lega pada akhirnya bisa mengatakan tentang perasaan saya kepada seseorang. Mungkin kalau bukan karena kamu, saya tidak akan pernah cerita ke siapa-siapa.

Saat kita berdua berkuliah di halaman kampus yang sama, saat saya tidak bisa mendapatkan tumpangan ke kos karena sudah terlalu malam tiba di Jogja, kamu mau menjemput saya, berdingin-dingin di udara malam sehabis hujan. Kemudian kamu masih mau menemani saya makan malam di tengah sulitnya mencari warung yang masih buka.

Saat sekali waktu, saya main ke kosmu yang dulu pun, meski tak jelas untuk apa, kamu bahkan sempat memasak buat saya. Memang hanya cuma sayur sop saja. Tapi saya sempat balas apa ke kamu?

Saya percaya sekali kamu orang yang baik. Saat saya sakit dua tahun lalu, kamu menjenguk saya lewat mimpi. Kamu bilang minta maaf pada saya. Dosa apa yang saya pernah buat ke kamu sampai kamu harus minta maaf di mimpi saya? Padahal jelas saya yang salah!

Kamu bilang, di mimpi itu, kalau kamu sebenarnya hanya diam-diam pergi karena tak ingin membuat kami semua khawatir. Saya peluk kamu dalam mimpi. Saya tak kuat menahan tangis, saat itu dan sekarang. Saya terbangun dengan mata yang basah. Sampai waktu itu ibu saya bertanya, "Kamu kenapa, Mas?", karena katanya saya menangis meraung-raung saat tidur. 

Bagaimana mungkin tidak? Apa yang tidak bisa saya lakukan untuk terakhir kalinya ke kamu, menjengukmu waktu kamu sakit, kamu bisa melakukannya untuk saya ketika saya sakit, bahkan ketika kamu sudah tidak ada di dunia ini.

Kamu terlalu baik buat saya. Dan saya tidak bisa melakukan apa-apa selain berdoa tiap mengingatmu, Njel. Semoga Allah benar-benar memberimu tempat terbaik di sisi-Nya. 

Semoga tiap kebaikanmu selama hidup dibalas dengan kelipatan yang tak terbilang. Dan semoga di tiap air mata yang menetes, di tiap doa yang terbisik, di tiap ingatan yang terbersit, Allah menggantinya dengan pahala yang tetap mengalir untukmu di sana. Juga kalau Allah berkenan untuk memperlihatkan tulisan ini padamu, semoga kamu memaafkan saya.

Saya rindu sekali, dan tentu yang lain juga begitu, karena kami sayang padamu. Dan jika ada kasih sayang Allah yang mengizinkan untuk kita bertemu kembali suatu saat nanti, mungkin rindu ini akan terobati. Sampai ketemu lagi.

08 August 2018

Fase-fase Mahasiswa

Berikut fase-fase yang dialami mahasiswa:
  • Tahun ke-1 dan ke-2: Pengen lulus cepat
  • Tahun ke-3 dan ke-4: Pengen cepat lulus
  • Tahun ke-5 dst: "Tolongin saya, ya Allah, terserah cepat atau lambat asalkan saya lulus!"
Sungguh fase-fase suram menjelang tahun ke-5
#celoteh

19 February 2018

Kaos Kaki

Nemenin Astri nyari kaos kaki buat dipake wisuda beberapa hari lagi.
Di sela-sela rak toko kami berbincang:

Aku Bukan yang itu?
Astri : Bukan, bukan... Yang licin.
Aku : Yang kayak apa to?
Astri : Yang tipis. Yang bukan kaos.
Aku : Lah! Bukan kaos kaki dong?
Astri : Iyaaa. Tipis kaki.
(Aku dalam hati : Hmmm... Boljug juga...)


#celoteh

07 August 2017

KKN di Mana?

Di tempat wudhu Gelanggang Mahasiswa UGM, ada tiga orang termasuk saya. Dua orang yang lain saling mengenal, sedangkan saya tidak kenal siapapun dari mereka. Sambil saya menyesuaikan besarnya air yang keluar dari keran, tiba-tiba muncullah pembicaraan. Saya mendengarkan.

Mahasiswa A: KKN di mana, Mas?
Mahasiswa B: Di daerah ####, Tegal.
Mahasiswa A: Mana itu?
Mahasiswa B: Yaa, 6 sampe 7 jam lah dari sini... Brebes... Pekalongan lah.
(Aku dalam hati: Iki jane neng ndi to?! Njaluk digebyur banyu po piye?!)

#celoteh

12 January 2015

Nek Purbalingga?

Tiba-tiba teringat kisah kemarin Minggu.

Saya, ibu saya, dan adek saya yang masih umur 6 tahun sedang naik motor. Kami pulang setelah jalan-jalan di satu tempat di Solo. Entah dari mana asalnya adek saya tiba tiba nyeletuk:

Adik: Buk, nek kene iki Indonesia?
Ibuk: Iyaa...
Adik: Nek Purbalingga?
Ibuk: Purbalingga yo Indonesia...
Adik: Kok omonge bedo?
Saya: awowkawkwaowakak

Memalukan sekali! wkwkwkwk
Padahal satu keluarga lahir di Purbalingga semua, kok bisa-bisanya adek saya begini...

#celoteh